11/08/2010

Solo Exhibition “The Order of Things” Akiq AW, Benda-Benda Saling Berinteraksi Membentuk Kemenarikan



“The Order of Things”, sebuah buku terkenal karya Michael Foucalt, pengusung paham Strukturalisme dalam kehidupan sosial dari Perancis itu diambil begitu saja oleh Akiq AW untuk dijadikan tema pameran tunggal fotografi pertamanya yang ia lakukan di MES 56 yang dihelat 28 agustus hingga 18 September mendatang.
Akq AW adalah salah satu pendiri MES pada tahun 2002 lalu. “The Order of Things”  adalah karya-karya fotografi yang menghadirkan obyek-obyek foto berupa benda-benda dalam banyak rupa dan bentuknya saling berinteraksi membentuk pola, kekacauan (chaos) atau saling berjajar (juxtaposisi)
Menurut Akiq, benda-benda dalam banyak rupa dan bentuk dengan medan jalan sebagai ruang pamernya itu amat menarik mata serta ingatan yang hadir sebagai ekspresi simbolik manusia atas nilai-nilai dan strategi bertahan mereka.
Interaksi benda-benda yang membentuk pola itu hadir bukan sebagai sesuatu yang tidak sengaja yang menyatakan tentang kisah manusia yang berjuang melawan, berkompromi dengan alam dan manusianya. Juga dengan teknologi. Itu yang Akiq sampaikan dalam wawancara sebelum pembukana pameran.
“Menyoroti bangunan depan rumah, bangunan bentuk itu masuk dalam obyek yang ada sehingga membentuk sesuatu yang menarik. Ini adalah ekspresi simbolik manusia antara berkompromi atau melawan teknologi tapi akhirnya memilih berkompromi,” kata seniman kelahiran Kediri ini.
Kemunculan benda-benda itu, kata Akiq, barangkali mengundang pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu untuk dijawab namun amat menarik untuk dipikirkan bagaimana benda-benda itu muncul dan bisa dimanfaatkan sebagai obyek foto.
“Saya mengambilnya secara snapshot, melatih kepekaan melihat bentuk-bentuk aneh, menelusuri keanehan, melihat langsung semua (bentuk itu) dipinggir jalan,” kata Akiq seraya menambahkan tak ada obyek manusia dalam karya-karya foto yang ia pamerkan ini.
43 karya
Akiq AW memamerkan 43 karya fotografi dengan ukuran-ukuran yang cukup bervariasi mulai dari ukuran terkecil 20cm x 20 xm hingga terbesar 90 cm x 90 cm. Karya-karya Akiq adalah karya-karya pribadi  yang dikoleksi dari 2008-2010 ada beberapa juga dibuat tahun 2006.
“Sebagian besar foto-foto ini saya buat di Yogyakarta tapi juga beberapa dihasilkan di tempat lain seperti di Kopeng, Muntilan dan Kediri,” kata lulusan jurusan komunikasi FISIPOL UGM ini.
Memperhatikan karya-karya foto yang dipamerkan Akiq bisa dimunculkan pemikiran, 43 karya fotografi Akiq akhirnya menjadi karya-karya yang sangat personal dalam melihat keanehan-keanehan interaksi antarbenda yang ditemuinya dalam 2 tahun terakhir ini.
Memang karya-karya Akiq sangat mengundang pertanyaan bagi penonton karya fotonya. Lebih dari itu, foto-foto Akiq sebenarnya mampu mengajak penonton untuk serius berfikir tentang interaksi antarbenda.
Dalam kary foto yang menampilkan benda dalam wujud tumbuhan dengan benda berwujud seng dimana seolah-seolah tumbuhan itu seperti tumbuh dari dalam seng itu. Bentuk ‘biasa’ ini adalah wujud interaksi tumbuhan dengan seng yang menjalani waktu ‘hidup’ mereka masing-masing.
Sebuah bentuk juxtaposisi yang apik hadir dalam karya foto Akiq yang menampilkan hamparan tumbuhan padi yang sudah menguning yang akibat terpaan angin kencang dan air hujan yang kuat sehingga rimbunan tumbuhan padi itu harus rubuh. Alam kemudian bisa menjadi alasan mengapa bentuk juxtaposisi apik ini hadir dan dipotret Akiq sebagai sebuah tatanan sesuatu.
Ekspresi manusia atas benda-benda nampak sangat jelas hadir dalam karya foto yang mengetengahkan bentuk ranting serta daun sebuah pohon yang ditata sedemikian rupa oleh tangan manusia dengan menggunakan peralatan (teknologi).
Ranting dan daun-daun itu dibentuk menjadi aneka macam bulatan ranting dan daun yang berada di sisi dalam sebuah pagar rumah dan ketika Akiq mengambilnya sebagai bahan jepretan kameranya dari posisi luar pagar agak jauh, bentuk-bentuk bulatan beraneka rupa itu tampak menarik.
Semua karya fotografi yang dipamerkan Akiq memberi pemahaman besar bagi para pengunjung, bahwa interaksi benda-benda yang membentuk pola itu adalah ajakan untuk berfikir tentang kekinian yang terjadi. Juga sebuah keberlanjutan cara pandang terhadap prinsip, nilai, norma dan kepentingan antarmanusia dan alam disekitarnya.(The Real Jogja/joe)

No comments:

Post a Comment